Penampilan di hari pertama sebagai pembuka acara dengan menampilkan Tari Denok Deblong, kemudian dilanjutkan dengan pementasan tiga naskah serta musikalisasi puisi oleh anggota Teater Zenith dan di akhiri oleh Tari Sawang Sinawang Karya dari salah satu anggota Teater Zenith. Tiga pementasan tersebut adalah Janji Senja, Celoteh Skizofrenia, dan Badai Sepanjang Malam. Dan pada malam kedua dengan pementasan yaitu naskah Titik Berat karya dari Teater Zenith, serta pembacaan puisi Mata Luka Sengkon Karta Dan Diakhiri Tari Kontemporer Candu.

Dokumentasi Naskah Celoteh Skizofrenia (9/11)
Dengan mengusung tema Suwung Srawung Sambung Nyawiji Aji Ing Tepung, Tyas (HTN/19) yang merupakan Ketua Pelaksana mengungkapkan bahwa tema ini dilatarbelakangi oleh berkurangnya minat mahasiswa dalam dunia seni serta frekuensi pementasan Teater Zenith beberapa waktu belakangan dikarenakan adanya pandemi, namun dengan datangnya beberapa anggota baru serta para alumni dan para penggiat seni berkumpul dalam acara tersebut dapat menyambung silaturahmi yang terputus oleh pandemi, diharapkan Teater Zenith dapat lebih aktif serta mengadakan pementasan lebih banyak lagi untuk mempertemukan penggiat seni dengan cara menonton pertunjukan tersebut.

Dokumentasi Naskah Titik Berat (10/11)
Salah satu pementasan berjudul Janji Senja disutradarai oleh Irzyad (Ekos/20) menceritakan tentang seorang ibu yang menunggu suaminya sejak melahirkan hingga anaknya menikah. Meski tak kunjung datang, sang ibu tetap pada kesetiannya untuk menunggu suami. Konflik batin yang terjadi antara ibu yang menganggap suami orang baik, dan anak yang menganggap sebaliknya, ditampilkan dengan baik oleh para pemain. Pada akhirnya sang ibu tetap menunggu suaminya hingga senja terakhir.

Dokumentasi Naskah Badai Sepanjang Malam (9/11)
Salah satu penonton yang antusias menonton pementasan “Penampilan pementasan tentunya memerlukan persiapan yang cukup matang, dalam pertunjukan pementasan yang berjudul Titik Berat, cukup menarik karena pemainnya melakukan pertunjukan sangat rapi. Intonasi pemain dalam melafalkan dialog juga cukup keras sehingga penonton bisa memahami jalannya pertunjukan.” Ujarnya.
